Bali Street Food: 6 Makanan Kaki Lima yang Wajib Dicoba – Bali Street Food: 6 Makanan Kaki Lima yang Wajib Dicoba, tak hanya terkenal karena pantai-pantai indah dan budaya yang kaya, tetapi juga karena kekayaan kulinernya. Di balik restoran mewah dan kafe Instagramable, ada dunia lain yang menawarkan cita rasa autentik khas Bali — dunia makanan kaki lima. Di sinilah para pecinta kuliner sejati menemukan harta karun rasa yang tak terduga, murah meriah, namun luar biasa lezat. Jika kamu berkunjung ke Pulau Dewata, berikut enam street food Bali yang wajib kamu coba!
1. Sate Lilit: Lezatnya Sate ala Bali
Sate lilit adalah salah satu ikon kuliner Bali. Berbeda dengan sate pada umumnya yang ditusuk menggunakan lidi, sate lilit dibungkus atau ‘dililitkan’ di batang serai atau bambu. Bahan utamanya pun unik, biasanya menggunakan daging ikan tenggiri, ayam, atau babi yang dicampur dengan parutan kelapa, santan, dan rempah-rempah khas Bali seperti lengkuas, kunyit, dan daun jeruk.
Sate ini sering dijual di warung tenda atau gerobak pinggir jalan, terutama di daerah Denpasar dan Gianyar. Aromanya yang harum karena panggangan dan batang serai membuat siapa pun sulit menolak untuk mencobanya.
2. Nasi Jinggo: Paket Hemat Rasa Nikmat
Bayangkan nasi dalam porsi kecil, dibungkus daun pisang, disajikan dengan lauk seperti ayam suwir pedas, tempe goreng, mie goreng, dan sambal yang menggigit. Itulah nasi jinggo — street food sejuta umat di Bali.
Dengan harga mulai dari Rp5.000, nasi jinggo cocok untuk camilan malam atau bahkan sarapan. Banyak dijual oleh pedagang kaki lima di pinggir jalan, terutama saat malam hari. Nama “jinggo” konon berasal dari film Hong Kong “Jinggo” yang populer di tahun 90-an, mencerminkan semangat praktis dan cepat saji dari makanan ini.
3. Tipat Cantok: Gado-Gado Versi Bali
Jika kamu penyuka makanan vegetarian atau sedang mencari sesuatu yang ringan, cobalah tipat cantok. Makanan ini terdiri dari ketupat (tipat), yang dicampur dengan aneka sayuran seperti kacang panjang, taoge, dan kangkung. Semuanya disiram dengan bumbu kacang kental yang gurih dan sedikit pedas.
Tipat cantok sering dijual oleh ibu-ibu di gerobak dorong atau kaki lima dekat pasar. Rasanya sederhana namun menenangkan — cocok untuk makan siang cepat atau sebagai makanan sore hari.
4. Lawar: Kombinasi Unik Daging dan Sayur
Lawar gacha99 adalah hidangan tradisional Bali yang sering muncul dalam upacara keagamaan, tapi kini bisa dinikmati dengan mudah di warung pinggir jalan. Terdiri dari campuran daging cincang (biasanya babi atau ayam), kelapa parut, dan bumbu rempah lengkap. Terkadang ditambah dengan darah segar untuk cita rasa otentik — namun versi kaki lima biasanya sudah disesuaikan.
Lawar memiliki cita rasa yang kaya dan tekstur yang unik. Umumnya disajikan bersama nasi putih dan sate lilit. Jangan ragu untuk bertanya kepada penjual tentang jenis lawar yang disediakan agar sesuai dengan selera dan pantanganmu.
5. Rujak Kuah Pindang: Segar dan Berani
Kalau biasanya rujak identik dengan manis dan pedas, di Bali ada versi yang lebih “berani” — rujak kuah pindang. Terbuat dari irisan buah segar seperti mangga muda, kedondong, dan pepaya, lalu disiram kuah kaldu pindang ikan yang asin dan gurih.
Sensasi asam, pedas, dan asin berpadu dalam satu gigitan. Ini adalah makanan ringan yang sangat populer, terutama saat cuaca panas. Banyak ditemukan di pinggir jalan sekitar Denpasar dan Sanur, dijual oleh pedagang wanita dengan ember khas mereka.
6. Bakso Bali: Lebih Pedas, Lebih Berani
Bakso di Bali punya ciri khas tersendiri. Biasanya disajikan dengan sambal yang luar biasa pedas dan kuah yang lebih gurih. Ada juga variasi bakso urat, bakso telur, dan bakso goreng, semuanya disajikan di gerobak dorong dengan pilihan mi kuning atau bihun.
Beberapa penjual bahkan menambahkan irisan jeroan atau tetelan sapi. Rasanya sangat cocok untuk kamu yang ingin kehangatan dan kenikmatan dalam semangkuk sederhana.
Penutup: Menjelajahi Bali Lewat Rasa
Mencicipi street food Bali bukan hanya soal makan — ini adalah pengalaman budaya. Dari sate lilit yang kaya rempah hingga rujak kuah pindang yang menggigit, setiap gigitan membawa kamu lebih dekat ke jiwa Pulau Dewata. Jadi, jangan ragu untuk menjelajahi sisi lain Bali lewat kaki lima. Siapa tahu, makanan terenak justru kamu temukan bukan di restoran bintang lima, melainkan di pinggir jalan dengan kursi plastik dan senyuman hangat penjualnya.
